Kamis, 01 November 2007

Dampak Budaya dan Kultur Digital village

Penulis : Aheng Saputra, Mahasiswa Teknik Informatika Semester V Politeknik Sawunggalih Aji

Beberapa waktu yang lalu sebuah surat kabar di Amerika memasang foto sebuah keluarga yang bahagia lengkap dengan seekor kucing kesayangannya. Sepintas foto tersebut biasa-biasa saja karena hanya menceritakan sebuah keluarga. Tetapi kalo diteliti lebih lanjut, ternyata kucing kesayangan mereka itu baru saja ditemukan dari pengembaraannya sekian tahun. Kucing tersebut ditemukan berkat bantuan sebuah chip yang ditanam pada tubuh kucingnya yang memberikan informasi mengenai identitas pemiliknya.


Cerita di atas merupakan contoh kecil dari dampak positif teknologi bagi kehidupan manusia. Dampak positif pemanfaatan teknologi informasi lainnya misalkan di bidang jasa pelayanan kesehatan. Institusi kesehatan menggunakan teknologi informasi untuk memberikan pelayanan secara terpadu dari pendaftaran pasien sampai kepada system penagihan yang bisa dilihat melalui internet. Contoh lain adalah bermunculannya polling atau layanan masyarakat dalam bentuk SMS (Short Message Service), termasuk juga untuk sistem perbankan yang dikenal dengan M-Banking (Mobile Banking)
Pernahkah kita sadari di lain sisi, kita mendengar dampak negatif dari pemanfaatan teknologi? Salah satu penelitian yang di lakukan di Universitas Tohoku Jepang menunjukan bahwa jika anak-anak dijejali aneka permainan komputer, maka lama-kelamaan akan terjadi kerusakan di sebagian otaknya, hal ini disebabkan pengaruh radiasi monitor komputer yang terserap ke otak melalui matanya. Atau seperti kejadian di Thailand di mana seorang gadis remaja gantung diri karena frustasi tidak dapat menyelesaikan permainan bomber man. Di bidang kriminalitas, walaupun belum ada penelitian yang kongkret tapi dipercaya, bahwa ada korelasi positif antara bermain permainan komputer dengan tingkat kejahatan di kalangan anak muda, khususnya permainan komputer yang banyak memuat unsur kekerasan dan pembunuhan. Di bidang perbankan, lebih mengkhawatirkan lagi penggunaan kartu kredit illegal (carding). Belum lagi perseteruan antara pembuat virus dan antivirus yang tidak pernah berhenti sepanjang masa. Fenomena seperti ini adalah sebagian kecil contoh yang dekat dengan kehidupan kita. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita harus menyikapi? Apakah kita berdiam diri, atau ikut terlibat dalam perkembangan teknologi informasi? Dampak positif dan negatife dari suatu perkembangan teknologi adalah pilihan di tangan kita.
Banyak literatur yang mendefinisikan teknologi informasi. Secara simpel, teknologi informasi dapat didefinisikan sebagai suatu teknologi yang berfungsi untuk menghasilkan, menyimpan, mengolah, dan menyebarkan informasi tersebut dengan berbagai bentuk media dan format (image, suara, text, motion pictures, dsb). Dari pengalaman dan pengamatan, tahapan pemanfaatan teknologi informasi dimulai pada saat teknologi informasi dianggap sebagai media yang dapat menghemat biaya dibandingkan dengan metode konvensional, misalkan saja pemakaian mesin ketik, kertas, penghapus, tip-ex, proses editing, dsb yang cenderung tidak efisien. Sekarang dengan bantuan komputer kita bisa melihat hasil ketikan di layar monitor sebelum dicetak, sehingga mengirit biaya kertas (paperless). Selain itu kita juga dapat menghemat waktu dan tempat penyimpanan file.
Setelah dirasakan bahwa teknologi Informasi dapat menggantikan beberapa cara konvensional yang memberikan benefit, maka orang mulai melihat kelebihan lainnnya. Sebagai contoh sarana pengiriman surat diganti diganti dengan surat eletronik (e-mail), pencarian data melalui search engine, chatting, mendengarkan musik, dan sebagainya. Pada tahap ini orang sudah mulai menginvestasikan kepada perangkat komputer. Nah, dari manfaat yang didapatkan, teknologi informasi mulai digunakan dan diterapkan untuk membantu operasional dalam proses bisnis. Misalnya perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan menyediakan informasi jasa dan produk yang ditawarkan tanpa dibatasi waktu dan ruang, misal pesan tiket dengan SMS, pengaduan ke Presiden dengan SMS, dsb.
Memang awalnya teknologi informasi dan komunikasi diciptakan untuk menunjang kegiatan bisnis. Pada perkembangannya, manusia secara pribadi ternyata juga dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi ini. Contohnya handphone, kalau dulu individu secara pribadi masih sulit untuk menggunakan handphone karena dulu piranti pendukungnya masih mahal, tetapi kini handphone sebagai salah satu produk teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi produk yang umum, yang tidak hanya digunakan untuk menunjang kegiatan bisnis pemiliknya, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup (life-style). Bahkan saat ini anak SD pun telah membawa handphone, sehingga handphone bukan barang murah lagi. Mengutip salah satu slogan produsen handphone terkemuka, "connecting people", ternyata benar adanya. Kian mudah saja berhubungan dengan orang lain.
Kemana saja kita pergi, kita dapat menjumpai orang membawa handphone. Itu dapat kita jumpai tidak hanya di kota. Pegawai atau karyawan di desapun dari tukang sayur, pedagang di pasar rakyat, dan sopir-sopir angkutan semua sudah ber "Hape". Yang membedakan dengan orang kelas menengah ke atas hanyalah kualitas handphonenya meskipun fungsinya sama-sama sebagai alat komunikasi.
Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan budaya masyarakat, PT Telkom telah mencanangkan akses handphone ter-connect di seluruh kecamatan se-Pulau Jawa, sehingga signal handphone menjangkau seluruh desa. Dengan perkembangan tersebut saat ini PT Telkom sedang mengembangkan Program Desa Digital (digital village), yaitu upaya memperkenalkan dunia telekomunikasi khususnya internet kepada masyarakat di daerah/pedesaan. Sudah ada 10 desa digital di Jawa Tengah dari 14 desa yang ditargetkan Telkom Drive IV untuk tahun ini.
Desa digital akan dijadikan pilot project pengembangan akses teknologi informasi dan komunikasi di daerah pedesaan dan remote area. Selain itu Program Desa Digital juga dijadikan sarana edukasi pelanggan dalam memanfaatkan jasa informasi dan komunikasi (Infokom), serta untuk membentuk komunitas pedesaan. Gubernur Jateng H Mardiyanto sendiri mengakui pembangunan desa digital di wilayahnya diharapkan bisa untuk mengatasi terbatasnya akses petani terhadap transparasi harga komoditas hasil pertanian. Adanya akses internet di pedesaan tersebut sangat memungkinkan bagi petani untuk mengetahui perkembangan harga komoditas pertanian secara tepat, sehingga petani tidak lagi bisa di bodohi soal harga. Kalau komunitas desa sudah bisa mengakses dan dapat memanfaatkan internet, maka diharapkan perkembangan bisnis di desa akan meningkat. Adakah desa di Kabupaten Purworejo yang menyusul menjadi desa digital? Harus itu....!!!


sumber: http://www.polsa.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=88

Tidak ada komentar: